Desir angin datang di malam yang dingin.
Menyapu harap, dan rindu kini menguap.
Menepiskan pahitnya rasa sakit.
Cinta yang memaksa masuk, merasuk;
menusuk-nusuk hati tanpa henti.

Istirahatlah kata.
Tidurlah rasa.
Bersama lara,
kupejamkan mata.

Bertiuplah angin di malam yang dingin.
Seiring hembusan nafas,
dari ingatan yang terbang bebas.

Biar rasa membeku, diam bersama lamunku.
Semoga, ada aku dan kamu dalam temu.
Saling bertatap mata tanpa sepatah kata.
Dalam rindu yang meluap.
Dalam sesaat yang kerap menguap.

Kamu adalah setiap pilihan kata,
yang kuharap abadi dalam puisi.


Kamu adalah tetes air mata,
yang tak kubiarkan jatuh berderai.


Kamu berubah dari sekedar ingatan,
menjadi senyum yang kusembunyikan;
malu-malu pada diri sendiri.

Semoga esok, saat matahari
kembali menyelam dibalik barisan bukit,
dan gelap jatuh di kaki langit.
Kita masih tetap sama.
Masih akan bercengkrama.
Melingkari api yang enggan membakar.
Saling menertawai kelakar.

mount kerinci, 30 januari 2018