• menyelami malam
    Pernah suatu malamaku tenggelam di lautan katasemakin malamsemakin kelamsemakin dalam aku tenggelammencari kita dalam kataBandung, 03 Maret 2012
  • selat sunda
    Kudengar suara nafasmu sayup,mirip gerimis, perlahan membuat kuyupSeperti desir ombak di lautmenarik diriku hanyutMatamu terasa hangat namun begitu kuatDengan bebas menembus tanpa mampu tertahan sekatMenyelam hingga palung terdalamdari rasa yang lama kupendamSaat inibiar aku resapibau asin angin laut dan aroma rambutmu…Saat inibiar kujiwaihadirmu dalam dekapku…Saat inibiar aku hayatisetiap rasa yang meluap…Saat inibiar kukecup keningmu dalamContinue reading “selat sunda”
  • surat cinta di gunung salak
    Kepada kekasihku Dengar suara dedaunanmenari-nari dibelai anginMemanggil kedamaianmembangkitkan kenangan Pandangi gunung yang agungberdiri kokoh dalam kesederhanaanMenjulang menembus lautan awandalam keabadian merenung Rasakan peluk kabutlembut menyentuh kulithingga hening menyambutkita dibuat hanyut Bisakah kau rasa semua itu?Bukankah kita begitu:Indah adanya! Gn.Salak, 6 Oktober 2017
  • aku ada
    Bila luka terlampau perih, menangislahKetika hidup menjatuhkanmu, bangkitlahSaat hati mulai goyah, percayalahDikala hati sedang resah, ceritalahJika raga tak sanggup melangkah, bersandarlahDan jika kau merasa lelah, pulanglahSebab untukmu aku ada Malang, 2009
  • hanya aku
    Kasih jangan merasa sepihanya aku yang pergisedang perasaankumemilih tetap bersamamu Jogja, 2010
  • mari bicara
    Sampai kapan kita betahtuk saling memendam amarahsampai kapan kan bertahanmenyakiti satu sama lainkapankah kita kan bosandan berhenti menipu diri seharusnya kita bicarauntuk saling memahamibukan tuk saling memakisebaiknya kita berterus terangtanpa harus saling serang aku ingin kita bicara sebentartanpa harus mencari salah dan benaragar kita sama-sama sadarbahwa untuk tetap bersamahanya akan menambah luka bahwa saling merelakanjugaContinue reading “mari bicara”
  • dua sisi
    Bicara tentang kita, aku kehabisan kataSebuah repetisi yang tak pernah usaiAku merindukanmu lewat puisidan kau yang melupakankusepenuh hatiBandung, 01 Februari 2018
  • sengaja
    Aku memandangimudengan sebelah biji matakuSatunya lagi,sengaja kupejam eratsupaya tidak keduanya buta Aku memeluk rindumudengan sebelah tangankuSatunya lagi,sengaja kubiarkan bebasagar tetap bisa menulis Aku mencintaimudengan bilik kanan jantungkuYang sebelah kiri,sengaja kusuruh berdetak sendiribiar tidak keduanya berhenti Bandung, 12 Februari 2012
  • aku mau
    Aku cemburu padanyahujan yang turun dari lagit matamuketika aku bahkan bukan awan disana Aku ingin seperti diayang kau beri peluk saat rindu mempertemukansedang aku sibuk membenahi pelik kerinduan Aku mau akuada diresahmuada didesahmuada dipelukmuada dipelikmu Caringin, 09 November 2019
  • selalu
    Mengapa harus merasa malusenja tak melulu indahpun pagi tak selalu cerahJangan bicara masa lalusemua itu tak perluAku tetap mengasihimuHari iniEsokSelalu…Bandung, 18 Februari 2017
  • setelah kita
    Jangan terlalu tergesa-gesakita tidak sedang berlombauntuk saling melupakansegera setelah perpisahan Tak ada yang harus disesalikamu pernah sangat pedulidan aku pernah mencoba kembali Aku hanya berharap, bila nantiada rindu yang mengusik hatiKita akan saling mendoakanuntuk menemukan kebahagiaan. Bandung, 15 februari 2012
  • Jatah
    Semua cinta punya jatah jatuhSemua hati punya jatah patahSemua rindu punya jatah tumbuhSemua rasa punya jatah lelah kita:Yang patah namun tabah melangkahYang lelah tapi berjalan tanpa keluhYang kalah namun pantang menyerahYang sedih tapi menolak tuk rapuh Pada saatnya akan saling menemukanatau berpisah tanpa harus diburu kenangan Kupang, Desember 2021
  • sajak air mata
    Air mata lahirdi tepian kelopak matadan mati ketikajatuh membasahi pipi Air mata lahir dari kepedihanSepanjang hidupnyahanya mengenal jarakantara mata dan pipi Air mata yang lahirlalu diam-tidak menangis-adalah yang paling getirAir mata yang lahirlalu berteriak-menangis-adalah yang paling lirih Apa yang lebih harudari air mata yang membiru?Apa yang lebih bisudari air mata yang terlahir mati? Apa yangContinue reading “sajak air mata”
  • Amin
    : kekasihCinta bukan gunung yang agungpun bukan ombak yang menggulungRindu tak semegah langit malampun tak seindah bentang alam Cinta adalah bunyi yang bersembunyidi bibirmu, diakhir doa-doamuRindu adalah ringkuk sujud dalam sunyidengan harap pada Tuhanmu Waktu membunuh segalatapi cinta tak pernah matiJarak membentang juatapi rindu bukan ilusi Cinta tak butuh megahRindu tak butuh indahselain kita dalamContinue reading “Amin”
  • jangan
    Jangan bergaul dengan penyair.Nanti kau jadi sekumpulan puisi.Jadi pengantar tidur pecandu syair.Dibuka-buka. Ditelanjangi. Begini saja,bila sudah terlanjur bertemu,patahkan saja penanya dengan batu.Supaya jangan ia menulis tentangmu.Atau, bisa juga, kau tuangkan tintapada hatinya. Biar basah. Biar hitam.Supaya dalam tinta ia tenggelam. Jangan bergaul dengan penyairnanti kau mencintai puisi.Jangan jadi penyairnanti kau jadi budak sajak. Tapi, bilaContinue reading “jangan”
  • semisal kau & aku
    Misal aku pulangdan kau sedang bersedihmaukah menangis di pelukku? Misal kau datangdan aku sedang letihmaukah membuatkan kopi untukku? Misal dalam heningkucium bibirmu kasihsudikah jadi milikku? Bandung, 15 Mei 2009
  • Nona manis
    untuk nona dengan senyum manisyang bukan lagi padaku tertuju kita pernah begitu saling mengisidalam renung paling sunyidalam temu yang enggan kusudahi tawamu adalah puisi paling ramaiyang tak rela kubagi walau tak pernah kumiliki kau pernah jadi doa paling rahasia,yang tak berani diucap pinta. kau pernah jadi gemuruh detakyang coba kuredam setiap detik aku pernah mencobaContinue reading “Nona manis”
  • aku harus apa
    aku harus bagaimana?kau beri aku pensil dan kertastapi kau dikte yang harus kutulis aku harus apa?kau suruh aku banyak membacatapi kau yang pilihkan bukunya kau suruh aku pergi menjelajahtapi langkah selalu kau beri arah bukankah tugasmu adalah mengawasi,lalu mengapa mengintervensi?bukannya tugasmu itu mendudik, lalu mengapa selalu mendikte? Bandung, 03 maret 2020
  • aku ini apa?
    Jadi, kita ini apa?Kalau kita belutberjalanlah dengan perutKalau kita anjingmenggonggonglah dengan lantang Jadi, kita ini apa?Kalau kita pohontumbuhlah dengan rimbunKalau kita manusiaberpikirlah selayaknya lalu, aku ini apa?Aku Apaini akuapa ini Bandung, 04 Januari 2018
  • Tentang semua ini
    Tentang waktuyang tak bisa berhentidan segala sesuatuyang tersimpan di hati Tentang dirikuyang terus mendekatdan dirimuyang memasang sekat Tentang kitayang hanya ilusidalam baris-baris katayang menjelma puisi Tentang rasayang masih adadan asayang kini tiada Gn. Kerinci, 31 januari 2018
  • Getar-Bunyi-Gema
    Bila rindu adalah bunyi,maka kamu itu getar;dan puisiku adalah gema.Namun bila rindu itu gema,maka kamu adalah bunyi. Sebab kita berdua tau;takkan ada bunyi tanpa getar,takkan ada gema tanpa bunyi.Dan dalam bentuk apapun rindu datang,kamu selalu jadi biang keroknya. Bandung, 06 November 2018
  • Kita
    Bicara tentang kita, aku kehabisan kataSebuah repetisi yang tak pernah usaiAku merindukanmu lewat puisiKau melupakanku sepenuh hatiBandung, 01 Februari 2018
  • Biar kita
    Biar titik-titik hujan tumpahmembasahi wajah kitademi membasuh resahsaat kaki lelah melangkah Biar raga lelahBiar telah patahNamun kita belum menyerah Biar hati penuh keluh kesahBiar sajaKita takkan menyerah Biar…Biar kita menantidalam keabadian Biar…Biar kita bertemudalam kerinduan Bandung, 12 maret 2018
  • Kamu adalah tujuan
    Kamu adalah tujuanTujuanku pergiTujuanku kembaliTujuanku berlariTujuanku berhentiTujuanku mencintai Bandung, 06 Oktober 2011
  • Siapa kita?
    Sajak-sajakku bukan sajakSyairku tak berirama Kata demi kata merangkai jejakdalam ingatanku menggemaDalam kepalaku mengais-ngaisberharap ada tempat menangisberhimpitan mencari jalan keluarmendesak membuat gusar. Siapa akuKauDiaDan mereka Dengan dangkal menerka-nerka Dari segala arah memandangmelahirkan sudut pandang Dengan pikiran-pikiran terbatasdan perbuatan terlampau batas Bandung, 23 September 2013
  • Tiga pagi & Kamu
    Masa lalu kembali memburuku. Kali ini, ia datang bukan sebagai hantu menakutkan, pun kutukan. Kali ini ia datang sebagai lautan kenangan, dengan ombaknya yang menghanyutkan. Suara debur ombaknya, amarah yang enggan diteriakkan. Buih ombaknya, perih yang takkan pernah bisa kulupakan. Dan jejak-jejak yang tinggal di pantainya, takkan terhapuskan. Aku terhempas. Menghantam pada kesalahan-kesalahan, juga padaContinue reading “Tiga pagi & Kamu”
  • Kita pudar
    Tergores diatas kertas buramPikiran-pikiran mendalam Menyelami jiwa mencari artidari kita yang kehilangan makna Suara-suara jiwaku berdesakanMemaksa menjadi kataMenata jalan menggapaimuTerpingkal-pingkal berlari Jakarta, 25 Desember 2017
  • Sepucuk puisi tua
    Aku sepucuk puisi tuayang memuat seratus kata.Seratus kata itu membawaseribu rindu yang terluka. Aku sepucuk puisi tuayang terselip diantara luka.Luka-luka itu menghadirkanseribu puisi yang lain. Aku sepucuk puisi tuayang cintanya buta. Bandung, 10 Desember 2016
  • Lima bait harapan
    ResapilahNyanyian hutanMengalun pelanMengisi kekosonganMenumbuhkan harapan DengarkanlahNyanyian hutanMenyerukan kedamaianMenyatukan perbedaan Lukamu perihkuSakitmu rintihkuKita satu jiwaDalam dua raga Lestari hutankuLestari negrikuHening hutankuDamai negriku Daun-daun berguguranMemupuk harapanSemoga lestari negriku Gn. Burangrang, 17 Agustus 2018
  • Singkat saja
    Tak bisa kita salahkansetiap pencuri punya alasanjanganlah dipenjarakanbiar bebas berkeliaran Ah, singkat sajaAku suka negeri iniBegitu kental toleransi Bandung, 02 November 2016
  • Bolehkah?
    Kau yang mengambil keputusanaku yang menjalani kehidupanKau yang membuat kebijakanaku yang hidup dalam peraturan Bila kau buat putusanbolehkah aku pertanyakan?Bila kau buat kebijakanbolehkah aku perdebatkan? Bandung, 19 Juli 2011
  • Titah adalah Titah
    kejam adalah kejamkecam hanyalah kecammata dipaksa pejamkeadaan kian cekam titah langit sudah turuntentara langit datang beruntunsiapa-siapa duduk kerumundihalau paksa bak penyamun BUBAR! BUBAR! BUBAAAR!seru kelompok pemburugelegar laksana gunturberkumandang di segala penjuru TUTUP! TUTUP! TUTUUUP!yang kecil wajib tutup!yang di dalam diam saja!yang dari luar silahkan kerja SIKAT! SIKAT! SIKAAAT!yang di jalanan dicegatyang berdagang diembatyang lapar sudahContinue reading “Titah adalah Titah”
  • Benar, kasih
    Memandang kedalam matamuaku temukan tempat berteduh Memelukmu dengan erataku temukan tempat bersandar Di hatiku, kau menjelma rindu Benar kasih, aku mengasihimudengan sepenuh kesadarankuDengan perasaan yang sulit ku ucap Aku terbata-bata mencintaimu Bandung, 29 januari 2017
  • Kita biru
    Aku tersenyum melihat hujanterkenang kita yang biru Suara air jatuh dan atap beradumelantunkan nyanyian rindu Tapi, dengarkah kamu? Bandung, 14 januari 2013
  • Semua yang pasti
    Dan setelah semua iniakhirnya aku mengerti Kau memilih berpindah hatitanpa bisa kusiasati Yang kutahu, kini waktu terus bergantitanpa pernah berhenti Untuk dapat diratapi Bandung, 20 Mei 2018
  • Tentang semua ini
    Tentang waktuyang tak bisa berhentidan segala sesuatuyang tersimpan di hati Tentang dirikuyang memilih ‘tuk mendekatdan dirimuyang terus memasang sekat Tentang kitayang hanya ilusidan baris-baris katayang menjelma puisi Tentang rasayang masih adadan asayang kini tiada Gn. Kerinci, 31 januari 2018
  • Apa yang dicari?
    Apa yang kita cari?Di malam-malam gelapBerteman bayang-bayang diridan bara yang hampir padam Apa yang kita cari?Saat terik begitu membakarBermandikan cahaya mataharidan kaki yang terasa mengakar Apa yang dicari?Menyesatkan diri dalam kabutDi jalan-jalan setapak berlumpurTerdengar senandung-senandung lembutpenyemangat tubuh sekujur Bandung, 14 Oktober 2010
  • Secangkir sepi
    Pagi ini aku minum secangkir sepi.Rasanya semanis senyum indahmu. Ku seruput dalam-dalam sunyi itu,kenangan dalam secangkir sepi. Waktu tak pernah menunggu.Detiknya terus berdetak,membawa pergi senyummu. Aku segera beranjak.Secangkir sepi kusesap cepat-cepat,mengejar detik yang hendak pergi. Sebab waktu, enggan melambat.Takkan lagi ku nikmati sunyi Bandung, 17 November 2019
  • whisper to me
    Whisper, whisper to me, when the day is still bright.Let my eyes look for the light.For my night looms over my back.Waiting, for the opportunity, to pouce from behind.To drag me into the dark.A place, where prayersrest in peace. Whisper, whisper to me.I know my drought no longer long.So from the endless adventure, i’m goingContinue reading “whisper to me”
  • S’gala gelisah
    O, s’gala rapuhadakah sedih menghanyutkan?di malam-malam penuh gelisahadakah resah menghangatkan? O, s’gala candumasih adakah setitik kerinduan?dihati yang tersedu senduadakah secercah harapan? O, s’gala dalihadakah salah melelahkan?diwaktu-waktu letihadakah hati tersisihkan? O, s’gala bayangadakah jiwa melayangsaat jarak membentangdalam rindu melambung? O, s’gala serpihadakah pecah menyakitkan?dalam doa-doa lirihadakah Tuhan mendengarkan? Mount Sumbing, 5 September 2017
  • Pudar
    Pudar mengelilingi dirikudan semua manusiatak terlihat lagi di matakuHitam dan putih, samar seperti rahasia Hanya ada kamu, yang seolahterlihat sedang melangkahpenuh warna, dalamduniaku yang sesaat buramHanya ada kamu… Aku duduk di ujung jarakmelihat melati tumbuh semarakdi sisa-sisa musim hujanBermekaran indah meramu kenangantentang kamu…hanya kamu… Bandung, 10 september 2015
  • istirahatlah kata
    Desir angin datang di malam yang dingin.Menyapu harap, dan rindu kini menguap.Menepiskan pahitnya rasa sakit.Cinta yang memaksa masuk, merasuk;menusuk-nusuk hati tanpa henti. Istirahatlah kata.Tidurlah rasa.Bersama lara,kupejamkan mata. Bertiuplah angin di malam yang dingin.Seiring hembusan nafas,dari ingatan yang terbang bebas. Biar rasa membeku, diam bersama lamunku.Semoga, ada aku dan kamu dalam temu.Saling bertatap mata tanpa sepatahContinue reading “istirahatlah kata”
  • Selembar kenangan di hujan kemarin
    Ribuan titik air jatuh dari langitHujan sore ini membasahi hasratMenumbuhkan rasa hangatDalam balutan cinta, kita beradu sengit Kenangan tentang sore kemarin masih melekatSaat wajahmu mendekat padakuada rindu terpahat di pekat matamuAku memelukmu dengan eratdan kau menatapku lamat-lamatRindu mendorong kita begitu kuatHingga jarak tak mampu mengikat kita Dan semua yang ada kini,hanya sisa-sisa hujan kemarin:tanah basahContinue reading “Selembar kenangan di hujan kemarin”
  • Sepotong kita dalam seikat puisi
    lembar-lembar kenangan melekat pada dinding relung dalamsemua luka padaku tersiratdalamnya ada kau berdiam setelah padam cahaya suluhdalam gelap kita mengabursetelah cinta luruhdalam gelap kita melebur di atas jalan setapakkau berjingkrak-jingkraksekelilingmu rindu berserakdi atasnya aku berpijak luka jadi bilurrindu kini hamburpuisi hanya hiburkata sudah lebur lembar-lembar kenangantentang sepotong kitadalam seikat puisi kisah pilu beterbangan terbebas belengguContinue reading “Sepotong kita dalam seikat puisi”
  • Di kotamu aku semrawut
    Di kotamu yang semrawut, menjadi sederhana adalah hal yang sulit dijalani. sesuatu yang rumit dilakoni. Di kotamu yang semrawut, hujan yang jatuh bukan lagi air. Huruf mengalir deras dari ujung pena, menjadi kata dan menari-nari di ujung lidah. Menjadi bahasa. Membanjiri. Menyeretku pada gang-gang bertembok hijau yang terhimpit. Di kotamu, kisah lampau yang kusut masaiContinue reading “Di kotamu aku semrawut”

About me

hiking, music, mountaineering, and write poem is what makes my day..