Air mata lahir
di tepian kelopak mata
dan mati ketika
jatuh membasahi pipi

Air mata lahir dari kepedihan
Sepanjang hidupnya
hanya mengenal jarak
antara mata dan pipi

Air mata yang lahir
lalu diam-tidak menangis-
adalah yang paling getir
Air mata yang lahir
lalu berteriak-menangis-
adalah yang paling lirih

Apa yang lebih haru
dari air mata yang membiru?
Apa yang lebih bisu
dari air mata yang terlahir mati?

Apa yang lebih gaduh
dari air mata yang menyeru?
Apa yang lebih deru
dari air mata yang bergemuruh?

Membendung air mata
sama saja menabung lara
Biarkan saja ia mengalir
membasuh pedih perih

Air mata adalah kepedihan
Kepedihan adalah air mata

Jangan menatap mata
tempat ia lahir
Pun membelai pipi
tempat ia mati

Lihatlah air mata itu
kepedihan yang menetes itu
Sepanjang hidupnya
antara mata dan pipi

Bandung, 17 Desember 2019

*di antara hujan deras dan duka, aku menemukan puisi ini