Masa lalu kembali memburuku. Kali ini, ia datang bukan sebagai hantu menakutkan, pun kutukan. Kali ini ia datang sebagai lautan kenangan, dengan ombaknya yang menghanyutkan.
Suara debur ombaknya, amarah yang enggan diteriakkan. Buih ombaknya, perih yang takkan pernah bisa kulupakan. Dan jejak-jejak yang tinggal di pantainya, takkan terhapuskan.
Aku terhempas. Menghantam pada kesalahan-kesalahan, juga pada sayatan-sayatan luka yang segar dalam ingatan. Aku terdampar pada kekalahan-kekalahan yang coba ku lupakan. Pada nurani yang pernah kutinggalkan, dan pada kata maaf yang terlambat disampaikan.
Masa lalu masih memburuku, (bahkan dalam bisik doa untuk masa depan, dalam amin paling yakin diujung doa, dan di antara air mata untukmu dipenghujung tiga pagi) ia terus mengamati; menanti saat ku rapuh, menanti saat ku jatuh.
Oesao, 20 agustus 2021